Usung Putra Sulung Berebut Kursi DKI 1, Akankah SBY Tumbangkan Megawati Untuk Kedua Kalinya?

4
45
views

JAKARTA, Jurnalis Indonesia – Siapa yang tidak kenal Presiden Republik Indonesia ke 6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Presiden pertama yang lahir dari rahim pemilihan langsung itu menjadi Presiden RI sejak tahun 2004-2014 alias selama dua periode. Ia dikenal sebagai ahli strategi ulung dalam dunia militer dan politik. Pencapaian tertingginya adalah ketika terpilih menjadi Presiden lewat Pemilu secara langsung pada tahun 2004 yang siapa sangka mampu mengalahkan pentolan-pentolan politik yang memiliki nama besar terkhusus Megawati Soekarno Putri.

Pilpres 2004 diselenggarakan dalam 2 putaran, dan dimenangkan oleh pasangan SBY yang saat itu berpasangan dengan Muhammad Jusuf Kalla. Di putaran pertama ada lima pasangan yang bertarung.

Pemilu putaran pertama (diselenggarakan pada tanggal 5 Juli 2004) diikuti oleh pasangan calon Wiranto-Salahuddin Wahid, Megawati Soekarnoputri-Hasyim Muzadi, Amien Rais-Siswono Yudo Husodo, Susilo Bambang Yudhoyono-Muhammad Jusuf Kalla dan Hamzah Haz-Agum Gumelar.

Karena tidak ada satu pasangan yang memperoleh suara lebih dari 50 persen, maka diselenggarakan pemilihan putaran kedua yang diikuti oleh 2 pasangan calon yang memperoleh suara terbanyak pertama dan kedua, yakni SBY-JK dan Mega-Hasyim. Dalam putaran kedua itu Mega-Hasyim mendapat 39,38 persen suara dan SBY-JK 60,62 persen.

Kesuksesan inilah yang diduga banyak pihak ingin kembali dicapai SBY di Pilgub DKI dengan keputusannya mengusung putra sulung Agus Harimurti Yudhoyono berpasangan dengan Sylviana Murni.

Melalui partai Demokrat, PKB, PAN, dan PPP, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) resmi menjadi  calon Gubernur DKI Jakarta dalam Pilkada 2017. Putra Mahkota Cikeas ini disandingkan dengan Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Pariwisata dan Budaya Sylviana Murni.

Sejumlah pihak menilai penunjukan Agus terkesan dipaksakan. Pasalnya, karir Agus cukup cemerlang di TNI berbanding terbalik dengan pengalaman politik dan pemerintahannya masih minim. Bahkan, ada pihak menyebut keputusan itu akan memupus karir Agus di dunia militer. Sebab, aturannya adalah seorang prajurit yang ikut dalam Pemilu diwajibkan mundur dari keanggotaan TNI.

Menyikapi pandangan tersebut, Wakil Sekretaris Jendral Partai Demokrat Didi Irawadi Syamsudin membantah spekulasi itu. “Tidak ada paksaan, ini dari dua arah, dari parpol koalisi rakyat ini memberikan masukan figur ini menjadi figur menarik dan jadi figur bagi Jakarta,” kata Didi di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu (24/09/2016).

Menurutnya, keputusan untuk menjadi cagub DKI tidak dipaksakan dan berasal dari panggilan jiwa Agus sendiri. Didi menyebut pengabdian tidak ada batasnya sehingga Agus ingin mengabdi ke masyarakat yang lebih luas di Jakarta.

“Yang namanya pengabdian bagi negeri, Jakarta itu hak seseorang, pengabdian tidak ada batasnya. Di tentara, lalu ingin berkiprah sebagai panggilan jiwa itu baik ya. Itu panggilan dan keinginan kader perlu pemimpin muda yang baik bagi Jakarta,” tandasnya.[] (ZA/DI)

baca juga

Berita Terbaru

4 KOMENTAR

  1. 773800 109976An interesting discussion is worth comment. I feel that you want to write far more on this matter, it might not be a taboo subject but normally individuals are not enough to speak on such topics. To the next. Cheers 426472

  2. 660142 221038Id want to verify with you here. Which is not 1 thing I usually do! I take pleasure in reading a submit that will make individuals believe. Additionally, thanks for permitting me to remark! 585691

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here