Polemik Kebiasaan Makan Sambil Jalan di Jepang

1
2
views

Tokyo, jurnalisindonesia.com – Saat berkunjung ke negara lain, makanan lokal pinggir jalan alias street food adalah salah satu makanan yang wajib dicoba.

Di Jepang, Anda bakal menemukan banyak makanan jalanan yang super nikmat dan khas, sebut saja tamagoyaki, ramen, sampai sushi.

Namun sebuah kota di Jepang, prefektur Kanagawa, Kamakura yang juga menjadi sebuah wisata populer sedang mempertanyakan kebiasaan orang yang jajan makanan jalanan tersebut.

Secara tak langsung mereka mempertanyakan apakah makanan jalanan itu harus dibeli di jalanan dan dimakan di jalanan?

Pada April lalu, kota ini mengeluarkan peraturan resmi yang meminta pengunjung untuk tidak makan sambil jalan. Apa masalahnya?

Ternyata ini bukan masalah aturan kesopanan atau adat. Pelarangan makan sambil jalan di Kamakura ini terjadi karena sampah kemasan dan sisa makanan dibuang sembarangan. Akibatnya, masyarakat setempat yang harus membersihkannya.

Perwakilan kota Kamakura yang terkenal dengan kuil Budha populer dan pantai yang indah ini mengatakan, peraturan tersebut sudah dipasang di tempat-tempat umum. Hal tersebut dilakukan untuk membangun kesadaran akan masalah tersebut dan bukan untuk menghukum pelancong. Bahkan tak ada denda atau sindiran bagi orang yang melanggar permintaan tersebut.

Namun bukan hanya itu, aturan atau permintaan untuk tak makan di jalan ini juga dikaitkan dengan adanya potensi makanan atau minuman yang tumpah ke pakaian. Selain itu banyak orang Jepang percaya bahwa makan sambil jalan atau sambil melakukan aktivitas fisik lainnya adalah perilaku buruk karena ini berarti Anda tidak menghargai makanan.

Masalah ini bukan hanya jadi perhatian khusus bagi Jepang, tapi juga beberapa kota di negara lain. Di Florence, Italia, mereka memasang peraturan khusus tentang larangan untuk makan di jalanan, di trotoar, jalan depan pintu toko dan rumah.

Bukan hanya soal kebersihan, namun kota ini adalah bagian dari kota yang ramai dan sibuk. Orang yang duduk di trotoar akan membuat orang lain sulit berjalan dan mengganggu lalu lintas.

Di Florence, pelanggar dikenai denda 500 Euro.

Sementara itu, Bangkok, kota dengan makanan jalanan terbaik di dunia, juga tengah mencari jalan keluar terkait hal ini.

Beberapa penduduk setempat meminta adanya pembatasan atau bahkan penutupan akses karena kerumunan orang makan yang semakin bertambah.

baca juga

Berita Terbaru

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here