Kami Meminta Kesejahteraan, Bukan Kesengsaraan

0
2
views

Negara Indonesia merupakan negara yang kaya akan rempah-rempah. Selain itu, wisata alam yang menjadi kunjungan banyak Warga Negara Asing (WNA) merupakan kebanggaan tersendiri bagi warga lokal. Contohnya, salah satu tempat wisata terbaik Indonesia yang berada di Wamena, Papua.

Namun, kekayaan negeri ini ternyata menjadi duka bagi warga lokal setelah para penjajah datang merampas kekayaan alam negara ini. Kekayaan rempah-rempah kita menjadi salah satu daya tarik negara lain datang menjajah.

Sebelum kemerdekaan Indonesia, banyak kejadian yang tidak mungkin terlupakan hingga kini. Duka yang mendalam kami rasakan hingga sekarang, pahlawan bangsa yang tak kenal lelah dan rela berkorban demi memperjuangkan kemerdekaan Negara Indonesia merupakan bukti bahwa negara ini kuat.

Duka yang telah berakhir kini kembali timbul, kekayaan Negara Indonesia tidak lagi dinikmati warga lokal melainkan oleh warga asing. Tenaga Kerja Asing (TKA) kini mencapai angka sekitar 3000 di Indonesia, sementara itu jumlah pengangguran di negeri ini telah mencapai angka 6.8 jt.

Perusahaan besar salah satunya berada di Sulawesi Tenggara, Morowali, lebih mengandalkan TKA lebih dibandingkan warga lokal. Morowali yang merupakan salah satu pertambangan juga merupakan tempat bekerja TKA yang berasal dari China. Mirisnya, warga lokal harus belajar berbahasa asing (bahasa China) untuk dipakai berkomunikasi dalam bidang pekerjaan. Padahal kita tahu, jika berada dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) maka harus menggunakan Bahasa Nasional Indonesia. Akan tetapi, hal ini tidak berlaku lagi. Negeri ini kaya akan hasil bumi, namun yang terjadi sekarang warga menjadi pekerja di negeri sendiri.

Apa yang harus kita lakukan? Semua ini merupakan kesalahan mendasar yang disebabkan karena kurangnya ilmu pengetahuan bangsa kita.

Masih banyak contoh yang lain seperti kerusakan-kerusakan jalan di negeri. Rusaknya jalan menjadi salah satu faktor kecelakaan yang merenggut nyawa manusia.

Disisi lain, Buton yang kaya akan aspal kurang bermanfaat lagi bagi negeri sendiri. Padahal, hasil bumi ini harusnya menjadi kenikmatan Negara Indonesia.

Kota Kendari, Sulawesi Tenggara merupakan sebuah kota kecil yang indah. Namun duka masih terasa. Kerusakan jalan yang tidak manusiawi menjadi faktor kedukaan warga Kendari, padahal Sulawesi Tenggara memiliki Buton yang kaya akan aspal.

Bukan hanya Kendari, kota-kota besar di Indonesia juga merasakan hal yang sama. Ironisnya, meskipun jalan rusak pajak jalan masih dibayar oleh warga, seakan-akan tidak ada keadilan yang terwujud. Kedaulatan berada ditangan rakyat kini menjadi kedaulatan berada ditangan penguasa. Siapa yang berkuasa dia yang berdaulat. Tangisan rakyat menyelimuti negeri, tetesan air mata tidak lagi berpengaruh, pemerintah yang memintingkan kedaulatan rakyat tidak lagi terasa.

Belum lagi dibidang perekonomian, tangisan warga kelas bawah bergema di negeri ini, naiknya harga bahan pangan seperti beras menjadi pelengkap duka warga lokal. Menurunnya angka mata uang rupiah dan naiknya angka mata uang dollar salah satu bukti kesengsaraan rakyat.

Pemerintahan yang mengikat kini semakin ketat, jangankan meminta, mengkritik pemerintahan saja merupakan pelanggaran. Rakyat yang harusnya bersenang-senang atas hasil bumi kini merasakan kesengsaraan yang mendalam.

Kami hanya ingin hidup sejahtera dan berdaulat, berdiri diatas kaki sendiri dan menikmati kekayaan hasil bumi ini. Apakah itu berat bagi pemerintahan di Indonesia ?! Negara Indonesia ada karena rakyat. Tanpa rakyat negara tidak bisa dikatakan sebagai negara.

Kami meminta kesejahteraan, bukan kesengsaraan.

Penulis : Muh. Adriansyah
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Kendari.

Artikel SebelumnyaCinta Yang Sesungguhnya
Artikel SelanjutnyaSP Kota Kendari Goes To Moramo
BAGIKAN

baca juga

Berita Terbaru

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here